Selasa, 14 Mei 2013

Refleksi "Artikel Populer: Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Matematika"


Pendidikan karakter sekarang sedang banyak dibicarakan oleh masyarakat umum. Pendidikan karakter digalangkan dengan tujuan untuk menciptakan generasi bangsa yang berbudi pekerti luhur. Implementasi dari adanya pendidikan karakter dapat dilakukan dalam mata pelajaran matematika, yakni kegiatan dalam kaitannya dengan niat, sikap, pengetahuan, keterampilan dan pengalaman matematika, pendidikan matematika, serta pembelajaran matematika. Rasa senang dan ikhlas untuk mempelajari matematika menunjukkan sikap matematika. Pemahaman tentang makna karakter, karakter bangsa, matematika dan pendidikan matematika pada berbagai dimensi diperlukan Karakter pendidikan matematika meliputi karakter guru matematika dan karakter siswa belajar matematika. Pendidikan karakter dalam matematika dapat dilakukan dengan menganggap matematika sebagai kegiatan menelusuri pola-pola, yang kemudian dilanjutkan kegiatan penelitian atau investigasi, kegiatan pemecahan masalah, dan kegiatan komunikasi. Perpaduan antara pendidikan karakter dengan pendidikan matematika merupakan suatu hal yang sangat unik sebagai suatu proses pembelajaran. Pendekatan yang cocok dengan dunia siswa ketika belajar matematika digunakan untuk dapat mengembangkan pendidikan karakter dalam pendidikan matematika.
Oleh karena semua hal yang telah disebutkan di atas, pendidikan karakter yang diterapkan di dalam pendidikan matematika diharapkan dapat mewujudkan generasi bangsa yang unggul yakni dengan senantiasa melakukan inovasi pembelajaran matematika yang disesuaikan dengan perkembangan zaman. 

Refleksi 'Forum Tanya Jawab 63: Bagaimana Siswa Bisa Menentukan Kurikulum?’


Artikel ‘Forum Tanya Jawab 63: Bagaimana Siswa Bisa Menentukan Kurikulum?’ begitu menginspirasi. Apa yang telah diuraikan di dalam artikel dapat kita jadikan gambaran untuk melakukan perubahan di dalam sistem pendidikan di Indonesia. Di Indonesia, kurikulum diartikan sebagai suatu garis besar rencana implementasi pendidikan yang disusun oleh Pemerintah melalui para pakarnya. Namun di Negara Inggris, kurikulum itu juga dapat diartikan langsung dalam konteks kelas (kurikulum tingkat sekolah) atau hampir seperti RPP. Inggris menganut sistem pendidikan desentralisasi dimana kurikulum itu adalah urusan sekolah masing-masing.
Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Di Inggris kurikulum disesuaikan dengan kebutuhan siswanya bahkan siswa-siswa dapat meminta pembelajaran sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Pembelajaran matematika di Inggris menganut pada waktu yang berbeda, berbeda-beda siswa, mempelajari matematika yang berbeda, dengan kecepatan dan kemampuan yang berbeda, dengan hasil yang boleh berbeda pula. Sedangkan di Indonesia, untuk waktu yang sama, berbeda-beda siswa, dituntut mempelajari matematika yang sama, dengan hasil yang harus sama, yaitu sama dengan yang dipikirkan oleh gurunya. Sungguh hal ini sangat bertolak belakang. Di Indonesia siswa masih dijadikan objek pembelajaran, padahal harusnya siswa adalah subjek pembelajaran. Kita hendaknya dapat melakukan inovasi pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan zaman. LKS sangat penting untuk melayani kebutuhan siswa yang berbeda-beda. LKS itu bukan sekedar kumpulan soal akan tetapi sebagai salah satu sarana untuk mengembangkan prestasi dengan mengeksplor kemampuan dari diri masing-masing siswa. Semoga sistem pendidikan di Indonesia semakin baik untuk ke depannya dan guru-guru semakin kreatif dan inovatif dalam melakukan kegiatan pembelajaran.



Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas 41: Balas Dendam Syaitan Terhadap Matematikawan"


Syaitan selalu saja menggoda manusia. Hal ini karena memang telah ditakdirkan Allah bahwasanya syaitan akan selalu berada di kehidupan manusia. Hendaknya manusia haruslah selalu hati-hati ketika akan berbuat sesuatu. Syaitan tidak ada lelahnya untuk mengarahkan manusia ke jalan yang tidak disukai Allah. Kita sebagai manusia tidaklah boleh memiliki sifat sombong karena manusia bersifat terbatas. Sifat sombong juga membuat manusia menjauh dari jalan Allah. Allah sangat membenci sifat sombong. Ketika manusia telah diliputi kesombongan di dalam dirinya maka syaitan mudah saja merasuk ke dalam diri manusia, baik melalui hati ataupun melalu pikirannya. Seperti apa yang telah disebutkan di dalam artikel bahwasanya “biasa tidak biasa” itu merupakan “tidak biasa”. Seperti berdoa atau tidak berdoa itu merupakan hal yang sangat berbeda. Mempunyai pengaruh yang berbeda pula. Kita hendaknya selalu berdoa kepada Allah agar selalu mendapatkan perlindungannya dari godaan syaitan yang terkutuk. Maha Besar Allah atas segala sesuatu di dunia ini. Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu berada di jalan yang diridhai-Nya.

Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas 40: Berguru Kepada Imam Al-Ghazali untuk Meningkatkan Kualitas Spiritual (Islam)"


Apabila seseorang ingin Salat dengan khusyu’, maka hendaknya dia membaca Zikir terlebih dulu. Karena dengan berzikir kepada Allah, setiap hati manusia akan tenang. Namun apabila hanya dengan Zikir saja, itu tidak cukup untuk mengusir syaitan. Zikir yang dilakukan kita baru akan efektif jika hati kita bersih dari makanan syaitan. Syaitan hanya bisa masuk ke dalam hati melalui pintu-pintunya dengan membawa penyakit-penyakit hati. Pintu masuk itu adalah penyakit yang sekaligus menghantarkan penyakit hati. Yang dimaksud makanan syaitan tersebut berupa penyakit-penyakit hati. Macam-macam penyakit hati diantaranya: ambisi atau keinginan yang sangat rakus dan hasad, yaitu kedengkian. Yang bisa membawa penyakit hati yaitu marah dan syahwat (dorongan untuk mengejar kenikmatan fisik). Marah merupakan salah satu jalan syaitan. Untuk mengobati rasa marah, dapat dilakukan dengan melakukan shalat. Yakni Salat dengan khusyuk meminta perindungan kepada Allah. Semoga kita senantiasa mendapat rahmat dan hidayah-Nya.

Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas 39: Menggapai Sepi"


Sepi dan ramai adalah dua hal yang saling berlawanan. Kita bisa saja merasakan sepi ketika lingkungan ramai. Namun sebaliknya, kita pun dapat merasakan ramai ketika lingkungan sekitar kita sepi.  Ramai di dalam sepi adalah ketika kita berdoa kepada Allah. Berdoa dengan perasaan setulus hati, berdzikir kepada Allah, dan mengintrospeksi diri dengan memohon ridha-Nya. Menggapai sepi adalah sebenar-benar doa tanpa keakuan. Hal ini karena keakuan menjadikan manusia memiliki rasa sombong di dalam dirinya.  Menggapai sepi dengan berdoa yang mana kita merendah dan tunduk kepada Allah mencurahkan segala isi hati untuk memohon ampunan, perlindungan serta kasih sayang-Nya dengan segala keikhlasan di dalam hati. Semoga kita dapat mendapatkan ridha-Nya.

Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas 38 : Menggapai Pikiran Ikhlas"


Ikhlas adalah rasa tulus dalam melakukan segala sesuatu di dalam kehidupan sehari-hari. Memang tidak mudah untuk benar-benar ikhlas dari dalam hati. Namun hendaknya kita selalu terus berusaha untuk ikhlas dalam menjalani kehidupan yang telah menjadi takdir dari Allah. Semua yang diberikan Allah kepada kita adalah yang terbaik untuk kita. Terkadang harapan kita tak sesuai dengan kenyataan sehingga timbul masalah. Namun jika kita mampu menerapkan rasa ikhlas dari hati, masalah itu tidaklah menjadi beban. Hendaknya kita selalu menjaga hati karena muara ikhlas ada di dalam hati. Dengan kesabaran, ketulusan, dan melakukan sesuatu tanpa adanya prasangka, maka kita dapat mencapai ikhlas itu sendiri. 

Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas 37: Ketika Pikiranku Tak Berdaya"


Sifat sombong merupakan sifat yang tercela. Sifat ini harus dihindari agar kita tidak terjebak dalam suatu lubang yang salah. Manusia diciptakan dengan perbedaan yang ada antara satu dengan yang lainnya. Terkadang manusia tanpa sadar telah berlaku sombong karena pemikiran ataupun kata-kata yang diucapkannya. Hal ini dikarenakan manusia bersifat terbatas. Oleh karena itu, berpikir kritis hendaknya dilakukan oleh setiap orang dalam berbagai situasi yang ada.
Seperti yang telah disebutkan di dalam artikel di atas, fatamorgana dapat bersemayam di dalam beberapa tempat, yaitu di dalam hati, di dalam pikiran, di luar hati dan di luar pikiran. Dalam kaitannya dengan berdoa, hendaknya kita selalu fokus ketika berdoa. Sejenak tidak memikirkan hal-hal yang tidak berkaitan dengan doa yang sedang kita panjatkan kepada-Nya. Senantiasa diiringi hati yang ikhlas dan khusyuk ketika berdoa. Semoga Allah selalu melindungi dan memudahkan segala urusan.

Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas 36: Menggapai Tidak Risau"


Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Banyak hal yang membuat manusia selalu merasa serba kekurangan di dalam menjalani kehidupannya. Keadaan ini menyebabkan manusia dilanda rasa risau. Banyak hal yang menyebabkan risau di dalam diri manusia. Seperti yang telah disebutkan di dalam artikel di atas, terdapat risau hati, risau miskin, risau lupa, risau tidak punya teman, risau tidak memperoleh pekerjaan, risau bersifat buruk dan reputasi buruk, risau iri hati serta masih banyak lagi. Risau ini merupakan penyakit hati yang dapat melanda siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Risau sebenarnya dapat dihilangkan bukan dengan pikiran logika yang kita miliki, namun lebih kepada jiwa di dalam diri masing-masing individu. Rasa risau yang menghinggapi seseorang mungkin karena kurang bersyukur atas nikmat dan karunia dari Allah. Oleh karena itu hendaknya seseorang senantiasa bersyukur atas apa yang telah didapatkannya atau bersikap qonaah (merasa cukup). Senantiasa berdoa dan meminta perlindungan kepada Allah agar dijauhkan dari segala risau yang dapat mengganggu diri kita.

Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas 35: Cendekia yang ber Nurani"


Setiap manusia diciptakan oleh Allah dengan perbedaan antara satu sama lain. Manusia berlomba-lomba untuk mendapatkan hal apa yang mereka inginkan. Hal yang dianjurkan di dunia ini adalah untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Tentu semua itu hendaknya diiringi dengan rasa tulus ikhlas di dalam pelaksanaannya. Hal ini guna mendapatkan ridha dari Allah. Keikhlasan seseorang itu tidak dapat dinilai dari diri sendiri. Perlu adanya penilaian dari orang lain. Namun tetap saja terkadang penilaian orang lain itu bersifat subjektif. Dengan demikian, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui atas segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Kebahagiaan dengan kesedihan, keberhasilan dengan kegagalan, harapan dengan kenyataan, usaha dengan hasil, semua itu beriringan dan selalu terkait. Manusia hanya dapat merencanakan segala sesuatu, namun hanya Allah yang mengizinkan terlaksana atau tidaknya rencana-rencana manusia di bumi ini. Hal ini karena sifat Allah Yang Maha Berkehendak. Di dalam artikel disebutkan bahwa manusia yang terjaga hati dan pikirannya, maka ia memiliki tiga kemampuan, yaitu merasakan, menyadari, memikirkan, dan menjalani fenomena mendatar, meruncing dan mengembang. Hendaknya ketiga kemampuan tersebut dapat kita terapkan di dalam kehidupan sehari-hari. Tak lupa untuk kita selalu berdoa dan memohon ampun kepada-Nya agar mendapatkan kemudahan dalam menjalani hidup.

Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas 34: Menemukan Ruh"


Dari elegy di atas, diperoleh banyak hal yang bermanfaat. Hati yang bersih akan mendapatkan kebaikan di mana pun juga. Allah Maha Adil atas segala sesuatu. Segala perbuatan kita kelak akan mendapatkan balasan yang setimpal. Seperti yang disebutkan di dalam elegi “hanya dengan sinar mata hatiku pulalah aku mampu memandang sinar wajahmu ya Rasulullah”. Tidak semua orang dapat bermimpi bertemu dengan Rasulullah. Hanya orang-orang tertentu pilihan Allah saja yang mendapatkan mimpi paling baik itu. Hal ini karena apabila seseorang bermimpi Rasullullah, maka ketika itu dia memang bertemu Rasulullah. Syaitan tidak mampu menyerupai wujud dari Rasullulah. Selain itu, kebersihan hati yang selalu kita jaga akan mengarahkan kita kepada cahaya Illahi. Sebenar-benar sinar mata hati merupakan ruh di dalam diri manusia. Tidak ada yang mengetahui seperti apa ruh itu karena ruh merupakan rahasia Allah. Namun kita hendaklah selalu meyakini segala sesuatu yang menjadi kuasa Allah dan senantiasa bertaqwa kepada Allah agar dimudahkan dalam segala urusan.

Refleksi "Elegi Ritual Ikhas 33: Doakulah Yang Tersisa"


Rasa khawatir berada diantara batas hati dan pikiran. Maka khawatir dapat datang baik di dalam pikiran maupun dalam hati. Rasa khawatir ada karena dalam melakukan sesuatu diliputi rasa keragu-raguan.
“Jagalah hati jangan kau kotori, Jagalah hati lentera hidup ini”. Berdoa merupakan bentuk ketidakberdayaan hamba kepada Allah. Dimana manusia begitu kecil di hadapan-Nya. Allah adalah tempat kembali paling baik. Mencurahkan segala keluh kesah yang ada di dalam hati dengan berdoa, memohon ampun dan berserah diri kepada Allah agar hati kita selalu bersih.  Manusia hanya dapat berdoa dan berusaha. Apabila doa kita belum juga dikabulkan, tetaplah berbaik sangka kepada Allah. Setiap doa itu pasti ada jawabannya. Allah Maha Mengetahui atas apa yang tidak diketahui oleh manusia. Mungkin dalam berdoa kita tidak ikhlas atau berlaku sombong sehingga Allah menunda dikabulkannya doa tersebut. Selalu memperbaiki diri kita dari waktu ke waktu agar kita semakin dekat dengan Allah. Jangan mudah putus asa apabila apa yang kita inginkan belum dapat kita peroleh. Sesungguhnya Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan, karena bisa saja yang kita inginkan itu belum tentu baik untuk kita. Allah memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya. Semoga kita senantiasa mendapatkan rahmat dan hidayah-Nya. 

Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas 32: Mengaji Jalaliyyah dan Jamaliyyah Wujud Allah"


Elegy tersebut mengingatkan kita akan nama-nama Allah dalam Asmaul Husna. Salah satu sifat wajib Allah adalah sifat Wujud yang artinya ada. Walaupun Allah tidak dapat terlihat, namun kita wajib meyakini bahwa Allah senantiasa ada dimana pun manusia berada. Sifat Wujud Allah dapat kita lihat dengan melihat segala bentuk ciptaan-Nya yang ada di muka bumi ini. Walaupun Allah tidak dapat dilihat wujudnya namun terdapat sisi jalaliyah dan jamaliyyah. Pertama melalui jalal-Nya, Allah menunjukkan Kebesaran-Nya, Keagungan-Nya, Kemahaperkasaan-Nya, ketidakdapat-terbantahkan-Nya,  dan kekuatan-Nya. Kedua, melalui jamal-Nya Allah menunjukkan keindahan-Nya. jika Jalal berhubungan dengan zat Allah, maka Jamal berhubungan dengan sifat-sifat Allah. Kita sebagai makhluk-Nya hendaknya mampu menyeimbangkan antara jalaliyyah dan jamaliyyah. Manusia merupakan seorang khalifah di bumi ini yang mempunyai amanah yang besar dari Allah. Akhlak yang mulia adalah akhlak yang meniru dari sifat-sifat Allah. Sebagai makhluk ciptaan-Nya, di dalam hidup ini hendaknya kita senantiasa bersyukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah. Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Semoga kita semakin dekat dengan-Nya dan mendapatkan ridha-Nya.

Refleksi " Elegy Ritual Ikhlas 31: Menggapai Kedamaian"


Menuntut ilmu itu tidak ada batasnya. Menuntut ilmu dilakukan manusia dari semenjak lahir hingga ke liang lahat pada akhirnya. Menuntut ilmu hendaknya kita lakukan dengan ikhlas. Elegi Menggapai Kedamaian mengingatkan kita agar kita tidak memiliki sifat sombong. Orang yang berhenti menunut ilmu dapat dikatakan berperilaku sombong. Sebenar-benar hidup adalah menuntut ilmu. Bahkan ketika kita telah mati, kita masih memerlukan ilmu. Tentu ilmu yang bermanfaat bagi kita semua. Semua yang kita lakukan bersumber dari hati. Hati yang baik maka baiklah perilakunya. Begitu pun hati yang buruk maka buruklah segala yang ada pada dirinya. Semoga kita dijauhkan dari hati yang buruk. Senantiasa membersihkan hati kita dan memohon ampun kepada Allah. Semoga dengan ilmu-ilmu yang kita miliki dan selalu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, Allah senantiasa memberikan petunjuk dan rahmat-Nya kepada kita.
                                                                                                                  

Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas 30: Tasyakuran Ketiga (Proyek Syurga) "


Setelah dua elegy sebelumnya, kini Elegi Tasyakuran ketiga membahas mengenai proyek lanjutan, yakni amalan calon penghuni Surga sebagai berikut:
1.      Memperbanyak membaca Al Quran
2.      Terus menerus berdoa
3.      Berpartisipasi dalam melakukan kebaikan (memberikan bantuan)
4.      Berpartisipasi dalam acara-acara keagamaan
5.      Menghidupkan malam-malam yang penting
6.      Membayar khumus yang diwajibkan kepadanya sehingga mensucikan hartanya
7.      Menjalankan semua kewajiban dengan penuh perhatian, kerajinan, dan kecermatan
8.      Tidak boleh bergunjing
Amalan-amalan tersebut apabila senantiasa kita lakukan maka dekatlah kita ke arah Surga Allah. Namun tidak dapat dipungkiri, di dalam kehidupan ini manusia dihadapkan kepada cobaan-cobaan yang terkadang membuat turunnya semangat dalam melakukan kebaikan secara istiqomah. Hidup manusia seperti roda yang berputar. Kadang di bawah dan ada saatnya di atas. Oleh karena itu, hendaknya kita tetap selalu berusaha berlomba-lomba dalam kebaikan, mendekatkan diri kita kepada Allah agar mendapatkan ridha-Nya. Semoga kita menjadi salah satu dari golongan orang-orang yang beruntung.

Refleksi "Elegy Ritual Ikhlas 29: Tasyakuran Ke Dua (Proyek Syurga)"


Lanjutan dari amalan calon penghuni Surga adalah sebagai berikut:
11.      Tidak membongakar aib orang beriman
12.      Selalu mulai dengan salam
13.      Selalu belajar dan bertanya tentang sesuatu yang tidak diketahui
14.      Melakukan Amar Makruf Nahi Munkar
15.      Tidak marah kecuali karena Allah
16.      Tidak menyia-nyiakan waktunya untuk sesuatu yang tidak bermanfaat
17.      Melakuakan shalat malam
18.      Menjadi teladan dalam akhlak yang terpuji di rumah, di jalan, dan di pekerjaan
19.      Menghadiri majelis dzikir dan majelis husainiyah
20.  Memelihara pandangan dari apa yang diharamkan Allah
21.  Memiliki kecemburuan kepada agamanya dan istrinya
22.  Bagi perempuan memakai hijab secara sempurna, tidak menampakkan selembar rambut pun dengan sengaja dan tidak berhias untuk orang lain selain suaminya.
Semua amalan tersebut terkadang masih saja belum dapat dilakukan di dalam kehidupan sehari-hari. Memang benar bahwa syaitan tidak akan ada hentinya untuk menggoda manusia. Manusia tidak ada yang sempurna. Semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun begitu, hendaknya kita selalu mensyukuri apa yang telah diberikan Allah kepada kita. Di dalam hidup ini, kita hanya dapat berusaha dan berdoa selalu kepada Allah agar selalu mendapatkan perlindungan dari-Nya. Semoga kita dapat senantiasa memperbaiki diri kita, mendekatkan diri kepada Allah agar mendapatkan ridha-Nya dan menjadi salah satu penghuni Surga kelak. Aamiin…

Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas 28: Tasyakuran Ke Satu (Proyek Syurga)"


Hidup ini adalah sementara. Untuk itu, marilah kita gunakan kesempatan yang telah diberikan oleh Allah dengan sebaik-baiknya. Kita isi waktu kita dengan kegiatan yang bermanfaat, agar kita kelak tidak menyesal. Ingat lima perkara sebelum lima perkara, yaitu: sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, lapang sebelum sempit, dan hidup sebelum mati. Senantiasa beribadah, bertaqwa kepada Allah. Karena Allah adalah tempat berpulang kita kelak. Manusia diciptakan Allah untuk beribadah kepada Allah. Di dalam elegi Tasyakuran Ke Satu (Proyek Penghuni Syurga) tersebut disebutkan amalan-amalan calon penghuni surga, yaitu:
1.      Memelihara waktu shalat
2.      Mengahadiri shalat berjamaah
3.      Bertasbih dengan tasbih Azzahra, terutama setelah shalat
4.      Selalu membaca shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya
5.      Selalu beristighfar dan memohonkan ampunan
6.      Selalu berdzikir kepada Allah
7.      Salat-salat sunah harian
8.      Menyambungkan silaturahmi terutama dengan orang tua
9.      Menyesali dosa
10.  Bergaul baik antara suami istri.
Semoga kita dapat mengimplementasikan amalan-amalan calon penghuni Surga tersebut di dalam kehidupan sehari-hari. Tentu saja amalan-amalan tersebut kita lakukan diiringi rasa ikhlas dari dalam hati. Semoga Allah selalu memberikan ridha-Nya kepada kita, dan kita mampu menjadi salah satu penghuni Surga.

Refleksi "Elegy Ritual Ikhlas 27: Silaturrakhim Para Ikhlas"


Elegi Silaturrakhim Para Ikhlas tersebut mengingatkan kita agar selalu mempererat tali silaturrakhim antar sesama manusia. Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala apa yang ada di dunia ini disediakan oleh Allah sebagai bentuk rahmat dari-Nya. Manusia hendaknya selalu mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah. Manusia dalam melakukan segala sesuatu hendaknya senantiasa berusaha dan berdoa kepada Allah dengan ikhlas. Bagi orang yang ikhlas, maka berpikir kritis akan mengikutinya. Silaturakhhim antar sesama dapat mempererat tali persaudaraan dan persahabatan. Begitu juga dengan persatuan dan kesatuan bangsa akan terjaga jika bangsa ini senantiasa mempererat tali silaturrakhim antar sesama anggota masyarakat. Kita tahu bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Dengan terciptanya persatuan dan kesatuan antar masyarakat maka akan tercipta kehidupan masyarakat yang kondusif, aman, tentram dan damai. Semoga kita selalu mendapatkan ridha Allah agar segala urusan baik di dunia maupun di akhirat dimudahkan oleh-Nya. 

Refleksi " Elegy Ritual Ikhlas 26: Perlombaan Menjunjung Langit"


Elegy Perlombaan menjunjung langit penuh dengan makna. Di dalam elegi tersebut pemenang dalam perlombaan menjunjung langit adalah orang-orang yang selalu mampu ikhlas dan berpikir kritis. Ikhlas atau tidaknya seseorang itu tidak mampu dilihat oleh dirinya sendiri. Yang mampu melihat keikhlasan pada diri seseorang hanyalah Allah. Kritis atau tidaknya seseorang juga tidak mampu dinilai oleh diri sendiri. Orang lain di sekitar lingkungan seseorang dan Allah lah yang mampu menilai kritis atau tidaknya diri seseorang tersebut. Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu. Elegi tersebut juga mempunyai makna atau pesan agar kita menjauhi sifat sombong, karena sombong tidak disukai oleh Allah. Hendaknya dalam melakukan segala sesuatu kita harus selalu ikhlas agar senantiasa mendapatkan ridho-Nya. Kita dianjurkan untuk selalu menuntut ilmu selama kita hidup. Tentu ilmu yang bermanfaat untuk kita baik di dunia maupun akhirat. Tidak hanya sebatas menuntut ilmu saja, hendaklah kita mengamalkan ilmu-ilmu yang kita dapat di dalam kehidupan sehari-hari. Marilah kita senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan, selalu beribadah kepada Allah agar mendapatkan rahmat dan hidayah-Nya.

Refleksi " Elegi Ritual Ikhlas 25: Menggapai Diri"


Apa yang kita tanam, ituah yang kita tuai. Jika kita berbuat baik, maka kita akan mendapatkan balasan yang baik. Begitu halnya apabila kita melakukan hal yang buruk, maka kita juga akan mendapatkan balasan yang buruk pula. Sekecil apapun amalan dan perbuatan manusia di dunia ini, kelak pasti akan mendapatkan balasan dari Allah. Untuk itu, marilah kita berlomba-lomba dalam kebaikan agar mendapatkan rahmat dan hidayah-Nya. Apa yang terjadi adalah sesuai dengan prasangka kita.  Manusia tidaklah boleh mempunyai sifat sombong karena Allah membenci sifat tercela tersebut. Kesombongan dapat menutup dan mencegah diri kita untuk mendapatkan ilmu dan hidayah dari Allah. Di dalam melakukan segala sesuatu hendaknya didasari rasa ikhlas. Manusia merupakan tempatnya salah dan lupa. Namun hendaknya kita selalu berusaha memperbaiki diri ke arah kebaikan. Kesempurnaan hanya milik Allah. Marilah kita senantiasa memohon ampun kepada Allah.

Refleksi " Elegi Ritual Ikhlas 24: Menggapai Doa dan Ikhtiar"


Keinginan, harapan dan cita-cita dapat diraih dengan dua hal yang saling terkait yakni berdoa dan berusaha (ikhtiar). Kedua hal tersebut hendaknya saling sinergis. Di dalam berusaha (ikhtiar) diperlukan tenaga, pikiran, perasan, kerja keras, biaya, resiko, pengetahuan, waktu, dan fasilitas. Di dalam berdoa hendaknya kita selalu dengan rasa tulus ikhlas di dalam hati. Doa yang tidak ikhlas dan belum diridhoi Allah maka akan berpengaruh pada terkabul atau tidaknya doa tersebut.
Takdir adalah sebaik-baik peristiwa atau kejadian yang telah terjadi. Allah Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Kuasa atas segala sesuatu di dunia ini. Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa kepada Allah atas segala keinginan yang ingin dicapainya. Namun Allahlah yang menentukan atas doa dan usaha yang telah kita lakukan. Manusia boleh merencanakan sesuatu, namun Allah yang menentukan. Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan memberikan apa yang kita inginkan. Hal ini karena terkadang apa yang kita anggap baik ternyata buruk untuk kita. Begitupun sebaliknya, apa yang kita anggap buruk ternyata baik untuk kita. Apabila kita mengalami kegagalan, hendaknya kita tidak putus asa dan menerima segala sesuatu dengan ikhlas dan khusnudzon bahwasanya Allah telah merencanakan suatu hal yang lebih baik untuk kita. Semua akan indah pada waktunya.