Selasa, 14 Mei 2013

Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas 6: Cantraka Sakti Berkonsultasi kepada Muhammad Nurikhlas"


Rasa ikhlas didasari semata-mata untuk mendapatkan ridha Allah SWT. Di dalam ritual ikhlas yang terpenting adalah mengikuti petunjuk ataupun aturan yang telah diterapkan dengan senantiasa ikhlas tanpa merasa terbebani. Segala sesuatu berkaitan dengan ruang dan waktu. Di dalam kehidupan ini, nilai moral tertinggi adalah komitmen. Memang sulit untuk selalu menjaga komitmen awal. Kita haruslah melakukan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya, diiringi dengan sikap yang mampu memilah-milah dalam menentukan prioritas. Dengan begitu, nilai dari ikhlas itu sendiri dapat didapatkan, yakni dengan cara mengatur dan mengolah hati atau perasaan dari diri masing-masing individu. Kita hendaknya berusaha untuk selalu meluruskan niat agar dapat mengimplementasikan nilai ikhlas dan mendapatkan ridha Allah SWT.

Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas 5: Cantraka Hitam Menguji Ilmu Hitamnya "


Niat utama dalam mengikuti ritual ikhlas adalah untuk memperoleh ridha Allah SWT. Cantraka hitam di dalam artikel di atas pada awalnya adalah orang yang dekat dengan hal yang tidak dibolehkan dalam agama, yaitu berhubungan dengan hal-hal yang dibenci Allah diantaranya syaitan, dan benda-benda yang dianggap keramat. Selain itu Cantraka Hitam memberi bantuan kepada orang yang menginginkan pesugihan, padahal jelas bahwa pesugihan adalah hal yang amat dibenci Allah karena menyekutukan Allah SWT yang kemudian menggantungkan hidup dan matinya terhadap keris pusaka. Namun pada akhirnya Cantraka Hitam mendapatkan hidayah, mengakui kesalahannya dan akhirnya bertaubat kepada Allah. Nama Cantakra Hitam pun berubah menjadi Cantraka Putih. Allah SWT selalu melindungi dan meridhai orang-orang yang berada di jalan yang benar. Taubat yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan senantiasa menjauhi hal yang dilarang Allah tentu akan diterima, karena Allah Maha Pengampun.

Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas 4: Cantraka Sakti belum Ikhlas "


Dari artikel di atas terlihat bahwa Cantraka Awam telah memiliki rasa ikhlas dalam mengikuti ritual ikhlas. Sedangkan Cantraka Sakti belum memiliki rasa ikhlas dikarenakan dia mengikuti ritual ikhlas karena alasan tidak sengaja, hanya ingin mengisi waktu ketika dia sedang tidak disibukkan dengan suatu hal. Cantraka Sakti merasa terbebani dengan aturan yang diterapkan di dalam ritual ikhlas. Cantraka Sakti masih memperlihatkan sikap sombong ketika membanggakan kedudukannya dalam mengenyam pendidikan di luar negeri. Masih banyak hal yang dikeluhkan Cantraka Sakti di dalam menyikapi aturan yang diterapkan di dalam ritual ikhlas. Kesimpulan yang dapat diperoleh dari cerita tersebut adalah bahwa kita haruslah selalu ikhlas di dalam menjalankan segala sesuatu di kehidupan ini. Kita tidak boleh terlalu merasa bangga dengan prestasi yang telah kita peroleh karena bisa saja akan termasuk dalam rasa sombong dan membuat hilangnya rasa ikhlas.

Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas 3: Persiapan Teknis "


Berdasarkan artikel Elegi Ritual Ikhlas 3: Persiapan Teknis di atas, ditegaskan bahwa kegiatan ritual ikhlas tujuan utamanya adalah menggapai rida Allah SWT. Di dalam ritual ikhlas tidak disediakan fasilitas yang sesuai dengan pangkat dan derajat peserta ritual ikhlas, karena semua orang itu mempunyai kedudukan sama di hadapan Allah kecuali keikhlasan dan amal masing-masing individu. Bekal atau modal dalam mengikuti ritual ikhlas ini hanyalah rasa ikhlas dari masing-masing individu. Semoga rasa ikhlas dapat selalu kita terapkan di dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Selanjutnya selalu berusaha untuk memperbaiki niat di dalam menjalankan rutinitas sehari-hari, sehingga apa yang kita lakukan adalah semata-mata untuk mendapatkan ridha Allah SWT.

Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas 2: Persiapan teknis"


Berdasarkan artikel di atas dapat diketahui tentang ritual ikhlas yang di dalamnya mempunyai tujuan bagaimana melaksanakan ibadat yang benar, sesuai dengan tuntunan yang ada. Kegiatan ibadat harus dilandasi dengan memohon ridha kepada Allah SWT. Kegiatan ibadat yang dipelajari di dalam ritual ikhlas diantaranya salat yang benar, mengambil air wudlu yang benar, bersuci yang benar, salat sunah yang benar, salat jamaah yang benar, selanjutnya berdoa dan zikir yang benar. Ritual ikhlas mengajak kita belajar untuk meningkatkan kualitas ibadat. Prinsip keadilan di dalam keikhlasan adalah tidak membeda-bedakan pangkat, derajat, golongan maupun jenis kelamin karena manusia dan makhluk yang diciptakan di dunia ini sama di depan Allah SWT. Oleh sebab itu, Setiap orang dalam mengerjakan sesuatu hal haruslah dilandasi rasa ikhlas.

Rabu, 17 April 2013

Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas I: Informasi awal"


Ikhlas sangat diperlukan di dalam kehidupan sehari-hari. Ikhlas mempunyai makna mendalam. Ikhlas mungkin memang sangat mudah diucapkan dengan lisan, namun untuk benar-benar ikhlas dalam segala sesuatu mungkin masih sulit untuk dilaksanakan. Di dalam artikel di atas dikatakan untuk mencari ikhlas maka harus dengan ikhlas. Jadi dalam hal apapun, kita sebagai manusia haruslah selalu merasa ikhlas mulai dari awal. Seperti dalam cerita artikel di atas, antara Cantraka Sakti dan Cantraka Ikhlas terdapat perbedaan sikap dalam kaitannya mengenai ikhlas. Cantraka Sakti ketika ditanya tentang persiapan untuk menghadapi ritual ikhlas, dia menjelaskan apa saja persiapan yang telah dilakukan selama ini dan yang telah didapatkan di dalam perjalanan hidupnya. Dari penjelasan Cantraka Sakti, terlihat adanya sifat arogan atau sombong dalam setiap ucapannya. Hal ini menunjukkan ikhlas itu sendiri belum mampu dilakukan Cantraka Sakti. Sedangkan Cantraka Ikhlas, di dalam setiap perkataan yang diucapkannya menunjukkan suatu rasa ikhlas. Sikap ikhlas di dalam menghadapi segala sesuatu haruslah sedapat mungkin dibudayakan di dalam diri masing-masing individu.

Refleksi "Elegi Bagaimana Matematikawan Mengusir Setan?"


Cerita yang amat menarik tentang matematika dikaitkan dengan aspek religi.  Matematika yang mana merupakan ilmu murni, di dalamnya terdapat materi ataupun teori-teori yang menarik untuk diuraikan atau dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari manusia. Banyak istilah-istilah dalam matematika yang dapat disangkutpautkan dengan aspek kehidupan manusia. Sebagai contoh seperti pada artikel elegi bagaimana seorang matematikawan mengusir syaitan di atas. Syaitan selalu menggoda matematikawan, namun matematikawan dapat menanggapi godaan syaitan itu dengan pemecahan masalah yang rasional berdasarkan ilmu pengetahuan dalam matematika. Tanggapan dari matematikawan tersebut juga didasarkan pada pemikiran dan logika di dalam dirinya yang diikuti adanya teori-teori yang umum yang terdapat dalam matematika. Sang matematikawan dapat berpikir dengan kritis dalam menanggapi apa saja yang dilontarkan atau diberikan oleh syaitan. Matematikawan tidak mudah untuk menyerah ketika syaitan juga pantang menyerah dalam menggoda matematikawan. Keasyikan sang matematikawan tersebut dalam menanggapi segala godaan syaitan menjadikan syaitan kelabaan. Hal ini mengumpamakan bahwa segala sesuatu masalah yang ada, jika di dalam menghadapinya dengan perasaan senang tanpa terpaksa atau terbebani, maka masalah-masalah tersebut dapat diselesaikan semuanya.