Rasa ikhlas didasari semata-mata untuk mendapatkan ridha
Allah SWT. Di dalam ritual ikhlas yang terpenting adalah mengikuti petunjuk
ataupun aturan yang telah diterapkan dengan senantiasa ikhlas tanpa merasa
terbebani. Segala sesuatu berkaitan dengan ruang dan waktu. Di dalam kehidupan
ini, nilai moral tertinggi adalah komitmen. Memang sulit untuk selalu menjaga
komitmen awal. Kita haruslah melakukan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya,
diiringi dengan sikap yang mampu memilah-milah dalam menentukan prioritas.
Dengan begitu, nilai dari ikhlas itu sendiri dapat didapatkan, yakni dengan
cara mengatur dan mengolah hati atau perasaan dari diri masing-masing individu.
Kita hendaknya berusaha untuk selalu meluruskan niat agar dapat
mengimplementasikan nilai ikhlas dan mendapatkan ridha Allah SWT.
Selasa, 14 Mei 2013
Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas 5: Cantraka Hitam Menguji Ilmu Hitamnya "
Niat utama dalam mengikuti ritual ikhlas adalah untuk memperoleh
ridha Allah SWT. Cantraka hitam di dalam artikel di atas pada awalnya adalah
orang yang dekat dengan hal yang tidak dibolehkan dalam agama, yaitu
berhubungan dengan hal-hal yang dibenci Allah diantaranya syaitan, dan
benda-benda yang dianggap keramat. Selain itu Cantraka Hitam memberi bantuan
kepada orang yang menginginkan pesugihan, padahal jelas bahwa pesugihan adalah
hal yang amat dibenci Allah karena menyekutukan Allah SWT yang kemudian
menggantungkan hidup dan matinya terhadap keris pusaka. Namun pada akhirnya
Cantraka Hitam mendapatkan hidayah, mengakui kesalahannya dan akhirnya
bertaubat kepada Allah. Nama Cantakra Hitam pun berubah menjadi Cantraka Putih.
Allah SWT selalu melindungi dan meridhai orang-orang yang berada di jalan yang
benar. Taubat yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan senantiasa menjauhi hal
yang dilarang Allah tentu akan diterima, karena Allah Maha Pengampun.
Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas 4: Cantraka Sakti belum Ikhlas "
Dari artikel di atas terlihat bahwa Cantraka Awam telah
memiliki rasa ikhlas dalam mengikuti ritual ikhlas. Sedangkan Cantraka Sakti
belum memiliki rasa ikhlas dikarenakan dia mengikuti ritual ikhlas karena
alasan tidak sengaja, hanya ingin mengisi waktu ketika dia sedang tidak
disibukkan dengan suatu hal. Cantraka Sakti merasa terbebani dengan aturan yang
diterapkan di dalam ritual ikhlas. Cantraka Sakti masih memperlihatkan sikap
sombong ketika membanggakan kedudukannya dalam mengenyam pendidikan di luar
negeri. Masih banyak hal yang dikeluhkan Cantraka Sakti di dalam menyikapi
aturan yang diterapkan di dalam ritual ikhlas. Kesimpulan yang dapat diperoleh
dari cerita tersebut adalah bahwa kita haruslah selalu ikhlas di dalam
menjalankan segala sesuatu di kehidupan ini. Kita tidak boleh terlalu merasa
bangga dengan prestasi yang telah kita peroleh karena bisa saja akan termasuk
dalam rasa sombong dan membuat hilangnya rasa ikhlas.
Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas 3: Persiapan Teknis "
Berdasarkan artikel Elegi Ritual Ikhlas 3: Persiapan Teknis
di atas, ditegaskan bahwa kegiatan ritual ikhlas tujuan utamanya adalah
menggapai rida Allah SWT. Di dalam ritual ikhlas tidak disediakan fasilitas
yang sesuai dengan pangkat dan derajat peserta ritual ikhlas, karena semua
orang itu mempunyai kedudukan sama di hadapan Allah kecuali keikhlasan dan amal
masing-masing individu. Bekal atau modal dalam mengikuti ritual ikhlas ini
hanyalah rasa ikhlas dari masing-masing individu. Semoga rasa ikhlas dapat
selalu kita terapkan di dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Selanjutnya
selalu berusaha untuk memperbaiki niat di dalam menjalankan rutinitas sehari-hari,
sehingga apa yang kita lakukan adalah semata-mata untuk mendapatkan ridha Allah
SWT.
Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas 2: Persiapan teknis"
Berdasarkan artikel di atas dapat diketahui tentang ritual
ikhlas yang di dalamnya mempunyai tujuan bagaimana melaksanakan ibadat yang
benar, sesuai dengan tuntunan yang ada. Kegiatan ibadat harus dilandasi dengan
memohon ridha kepada Allah SWT. Kegiatan ibadat yang dipelajari di dalam ritual
ikhlas diantaranya salat yang benar, mengambil air wudlu yang benar, bersuci
yang benar, salat sunah yang benar, salat jamaah yang benar, selanjutnya berdoa
dan zikir yang benar. Ritual ikhlas mengajak kita belajar untuk meningkatkan
kualitas ibadat. Prinsip keadilan di dalam keikhlasan adalah tidak
membeda-bedakan pangkat, derajat, golongan maupun jenis kelamin karena manusia
dan makhluk yang diciptakan di dunia ini sama di depan Allah SWT. Oleh sebab
itu, Setiap orang dalam mengerjakan sesuatu hal haruslah dilandasi rasa ikhlas.
Rabu, 17 April 2013
Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas I: Informasi awal"
Ikhlas sangat diperlukan di dalam kehidupan sehari-hari.
Ikhlas mempunyai makna mendalam. Ikhlas mungkin memang sangat mudah diucapkan
dengan lisan, namun untuk benar-benar ikhlas dalam segala sesuatu mungkin masih
sulit untuk dilaksanakan. Di dalam artikel di atas dikatakan untuk mencari
ikhlas maka harus dengan ikhlas. Jadi dalam hal apapun, kita sebagai manusia
haruslah selalu merasa ikhlas mulai dari awal. Seperti dalam cerita artikel di
atas, antara Cantraka Sakti dan Cantraka Ikhlas terdapat perbedaan sikap dalam
kaitannya mengenai ikhlas. Cantraka Sakti ketika ditanya tentang persiapan
untuk menghadapi ritual ikhlas, dia menjelaskan apa saja persiapan yang telah
dilakukan selama ini dan yang telah didapatkan di dalam perjalanan hidupnya.
Dari penjelasan Cantraka Sakti, terlihat adanya sifat arogan atau sombong dalam
setiap ucapannya. Hal ini menunjukkan ikhlas itu sendiri belum mampu dilakukan
Cantraka Sakti. Sedangkan Cantraka Ikhlas, di dalam setiap perkataan yang
diucapkannya menunjukkan suatu rasa ikhlas. Sikap ikhlas di dalam menghadapi
segala sesuatu haruslah sedapat mungkin dibudayakan di dalam diri masing-masing
individu.
Refleksi "Elegi Bagaimana Matematikawan Mengusir Setan?"
Cerita yang amat menarik tentang matematika dikaitkan dengan
aspek religi. Matematika yang mana
merupakan ilmu murni, di dalamnya terdapat materi ataupun teori-teori yang
menarik untuk diuraikan atau dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari manusia. Banyak
istilah-istilah dalam matematika yang dapat disangkutpautkan dengan aspek
kehidupan manusia. Sebagai contoh seperti pada artikel elegi bagaimana seorang
matematikawan mengusir syaitan di atas. Syaitan selalu menggoda matematikawan,
namun matematikawan dapat menanggapi godaan syaitan itu dengan pemecahan
masalah yang rasional berdasarkan ilmu pengetahuan dalam matematika. Tanggapan
dari matematikawan tersebut juga didasarkan pada pemikiran dan logika di dalam
dirinya yang diikuti adanya teori-teori yang umum yang terdapat dalam matematika.
Sang matematikawan dapat berpikir dengan kritis dalam menanggapi apa saja yang
dilontarkan atau diberikan oleh syaitan. Matematikawan tidak mudah untuk
menyerah ketika syaitan juga pantang menyerah dalam menggoda matematikawan.
Keasyikan sang matematikawan tersebut dalam menanggapi segala godaan syaitan
menjadikan syaitan kelabaan. Hal ini mengumpamakan bahwa segala sesuatu masalah
yang ada, jika di dalam menghadapinya dengan perasaan senang tanpa terpaksa
atau terbebani, maka masalah-masalah tersebut dapat diselesaikan semuanya.
Langganan:
Postingan (Atom)