Selasa, 14 Mei 2013

Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas 13: Memandang Wajah Rasulullah"


Subhanallah… Elegi di atas sungguh menarik dan baik sekali isinya karena banyak pengetahuan yang sangat bermanfaat. Didapat bahwa dalam filsafat terdapat kontradiksi, sedangkan dalam spiritual terdapat karunia. Kontradiksi ditimbulkan karena sifat manusia yang terbatas. Sedangkan Allah SWT menciptakan semua yang ada dan yang mungkin ada dengan tiada kontradiksi sedikitpun. Luar biasa rakhmat Allah bagi yang mampu melihatnya. Luar biasa pula rakhmat dari Allah bagi orang-orang yang mau belajar dan memikirkannya. Setiap muslim pasti menginginkan untuk dapat bertemu dengan Rasulullah. Mengharapkan syafa’atnya kelak di hari akhir ketika seluruh perbuatan dan amalan manusia dimintai pertanggungjawabannya. Rasulullah merupakan uswatun khasanah yakni suri tauladan yang baik. Sikap, perbuatan, perkataan Nabi Muhammad saw. hendaknya kita ikuti, karena sungguh Nabi Muhammad merupakan utusan Allah yang mengajarkan kepada kebaikan kepada seluruh umat.

Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas 12: Wasiat Muhammad Nurikhlas kepada Para Cantraka : Meretas Sejarah Peradaban Manusia"


Dari artikel Elegi Ritual Ikhlas 12: Wasiat Muhammad Nurikhlas kepada Para Cantraka : Meretas Sejarah Peradaban Manusia, didapat berbagai informasi yang begitu bermanfaat untuk diterapkan di dalam kehidupan. Orang yang dapat melihat peluang di dalam setiap kesempatan yang ada kelak masa depannya akan baik atau lebih terarah. Kesempatan itu tidak datang dua kali, oleh karena itu hendaknya kita dapat memanfaatkan kesempatan yang ada dengan sebaik mungkin, yakni dengan berani dalam mengambil keputusan. Tentu pengambilan keputusan ini harus dengan pemikiran akal maupun sesuai dengan hati yang telah kita tetapkan seraya selalu memohon ridha Allah. Pengalaman di dalam hidup yang telah kita lalui hendaknya mampu kita jadikan salah satu acuan guna arah hidup kita menjadi lebih baik. Setiap tindakan hendaknya didasari rasa ikhlas untuk mendapatkan ridha Allah. 

Refleksi " Elegi Ritual Ikhlas 11: Memahami makna Taubat dan bertobat Nasuhah"


Manusia adalah tempatnya salah dan dosa. Setiap manusia tidak luput dari suatu kekhilafan baik sengaja ataupun tidak sengaja. Ketika manusia melakukan dosa atau kesalahan kemudian ia menyadari dan memohon ampunan kepada Allah SWT itulah yang dinamakan taubat. Taubat merupakan rahmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya agar mereka dapat kembali kepada-Nya. Seperti artikel di atas, taubat nasuhah adalah memohon ampunan kepada Allah dengan lisan disertai penyesalan sungguh-sungguh di dalam hati terhadap suatu dosa yang telah dilakukan dengan jalan meninggalkan dosa tersebut disertai niat tidak akan mengulanginya lagi. Untuk itu, setiap orang hendaknya selalu merenungkan apa yang telah diperbuat kemudian memperbaiki sikapnya dengan selalu memohon ampunan kepada Allah agar semakin dekat dengan ridha Allah SWT. Dengan begitu segala urusan dapat dimudahkan oleh Allah baik di dunia maupun di akhirat.

Refleksi "Elegi Ritual IKhlas 10: Bermunajat Kepada Allah SWT"


Subhanallah,,, Artikel Elegi Ritual IKhlas 10: Bermunajat Kepada Allah SWT, mengingatkan saya untuk selalu memohon ampunan kepada Allah atas semua perbuatan yang telah diperbuat di masa lalu. Allah Maha Melihat lagi Maha Mengetahui. Allah mengetahui sekecil apapun perbuatan yang dilakukan oleh manusia. Di dalam artikel disebutkan bahwasanya tangisan kita sebenarnya menunjukkan suatu kelembutan hati. Sebaik-baik tangisan kita adalah menjadikan tangisan tersebut menjadi dzikir kita kepada Allah. Hendaknya kita selalu merenungkan segala perbuatan yang kita lakukan, dan selalu memohon ampunan kepada Allah dengan ikhlas agar kita mendapatkan ridha dari Allah. Semoga kita dalam menjalani kehidupan ini senantiasa berada di jalan Allah SWT dengan mematuhi segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas 9: Menggapai Keutamaan Dzikir"


Berdzikir dengan ikhlas akan mendekatkan kita dengan Allah SWT. Syetan masuk melalui tiga arah, yaitu tengah-tengah dada, rusuk dan seluruh tubuh dan syetan mengancam manusia terus. Agar kita dijauhkan dari godaan atau hasutan dari syetan, maka dzikir adalah cara yang dapat kita pilih. Dzikir yang didasari dengan rasa ikhlas dapat membuat kita dimudahkan segala urusannya oleh Allah baik urusan di dunia maupun di akhirat. Dengan berdzikir hati senantiasa bersih dan membuat kita tenang serta nyaman di dalam menjalani kehidupan. Semoga dzikir yang dilandasi rasa ikhlas dapat selalu kita terapkan di dalam kehidupan sehari-hari sehingga Allah senantiasa dekat dengan kita. Aamiin…

Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas 8: Tata Cara atau Adabnya Orang Berdoa"


Dari artikel Elegi Ritual Ikhlas 8: Tata Cara atau Adabnya Orang Berdoa, didapatkan bahwa doa itu penting dalam melakukan suatu ibadah. Doa adalah bentuk dari ungkapan harapan seseorang mengenai suatu hal. Semua orang tentu dapat melakukan doa. Doa termasuk salah satu ibadah. Dengan berdoa, seseorang dapat mendapatkan suatu keselamatan atau keberuntungan yang tentunya semua itu karena atas izin dari Allah SWT. Berbakti kepada orang tua bisa menjadi salah satu faktor penting terkabulnya doa. Berdoa dengan suara lirih menunjukkan sopan santun dan keikhlasan. Doa yang dilakukan dengan terus menerus dan berkelanjutan dengan merendahkan diri di hadapan Allah akan lebih dekat kepada terkabulnya doa tersebut. Orang yang berdoa dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadis Nabi akan lebih mudah dikabulkan daripada orang yang berdoa dengan doa-doa lainnya. Terdapat waktu yang baik untuk berdoa, diantaranya ketika kita sedang sujud, waktu antara adzan dan iqomat dan sepertiga malam terakhir. Kita tidak boleh berdoa dengan kata yang dibuat-buat ataupun dengan suara yang keras karena hal ini melampaui batas dan tidak disukai Allah. Artikel di ataas sungguh sangat bermanfaat jika dipahami dan diamalkan di dalam kehidupan sehari-hari. Semoga kita menjadi orang-orang yang semakin dekat dengan Allah karena doa-doa yang kita panjatkan kepada-Nya didasari rasa tulus ikhlas.

Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas 7: Tanya jawab pertama perihal Hati yang Ikhlas"


Dari artikel Elegi Ritual Ikhlas 7 di atas, diperoleh bahwa tujuan diciptakannya manusia dan makhluk lainya di dunia ini sebenarnya adalah agar senantiasa beribadah kepada Allah. Salah satu hal mendasar agar amalan-amalan atau ibadah kita diterima Allah adalah keikhlasan dari dalam diri individu. Semua makhluk Allah kedudukannya adalah sama. Hal ini karena yang membedakan adalah kualitas ibadahnya, yakni keikhlasan dalam menjalankannya. Setiap perbuatan manusia di dunia ini baik buruknya adalah bergantung pada niat dari orang yang melakukannya. Setiap perbuatan yang dilakukan akan mendapatkan balasan dari Allah. Hal yang menghalangi nilai ikhlas pada seseorang adalah riya (mengerjakan sesuatu karena ingin mendapatkan pujian dari makhluk, bukan semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah). Setiap perbuatan kita hendaknya ditujukan pada tujuan untuk mendapatkan ridha Allah. Dengan begitu nilai ikhlas tersebut akan tercapai.