Selasa, 14 Mei 2013
Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas 20: Metafisika Filsafat "
Dari artikel di atas banyak sekali informasi yang
didapatkan. Filsafat itu meliputi semuanya yang ada dan yang mungkin ada.
Metode yang digunakan untuk menerapkan filsafat dalam kehidupan sehari-hari
adalah metode menterjemahkan dan diterjemahkan. Filsafat merupakan olah pikir
manusia. Dalam mempelajari filsafat kita tidak boleh sepotong-potong. Setiap
apa yang kita pelajari tentu mempunyai tujuan. Tujuan mempelajari filsafat adalah
untuk menjadi saksi. Di dalam elegi juga disebutkan bahwasanya jika kita ingin
mengetahui dunia, maka kita hendaknya menengok kembali pikiran kita, diri kita
sendiri.
Saya begitu awam mengenai filsafat. Diperlukan pemahaman
yang dalam untuk mengerti maksud dari setiap elegi dari Bapak Marsigit. Banyak
wawasan baru yang disampaikan di dalam setiap elegi.
Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas 19: Tak Mampu Memikirkan Kapan Datangnya Kiamat "
Hari kiamat atau hari akhir itu
pasti akan terjadi. Kita haruslah meyakininya walaupun kita tidak tahu kapan
datangnya hari kiamat dan seperti apa hari kiamat itu. Namun begitu, Allah
telah memberikan tanda-tanda akan datangnya hari kiamat yang disebutkan dalam
Al-Quran. Iman kepada hari akhir dapat memotivasi kita untuk selalu mendekatkan
diri kepada Allah SWT. Jika kita meyakini dengan sepenuh hati, kita pasti
memikirkan konsekuensinya kelak setiap sikap dan perbuatan yang dilakukan dalam
menjalani kehidupan sehari-hari. Karena setiap amal dan perbuatan manuasia
sekecil apapun akan mendapatkan balasan dari Allah. Semoga kita senantiasa mendapatkan
lindungan-Nya. Aamiin…
Refleksi " Elegi Ritual Ikhlas 18: Menggapai Hati Yang Jernih"
Hati manusia merupakan organ yang amat berpengaruh untuk
diri seseorang. Hati ibarat cermin dari diri kita. Seperti yang disebutkan di
dalam Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim,
“Sesungguhnya di dalam
tubuh ada segumpal darah. Jika segumpal darah tersebut baik maka akan baik
pulalah seluruh tubuhnya, adapun jika segumpal darah tersebut rusak maka akan
rusak pulalah seluruh tubuhnya, ketahuilah segumpal darah tersebut adalah
hati.”
Apa yang kita lakukan di dalam kehidupan ini tegantung dari
niat. Dimana niat itu muaranya adalah di dalam hati setiap insan manusia.
Hendaknya kita selalu menjaga hati kita. Jangan mengotori hati, karena dengan
hati yang bersih maka Allah akan memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita.
Dengan begitu segala urusan di dalam kehidupan kita dimudahkan oleh-Nya.
Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas 17 : Para Bagawat Berlomba Menjunjung Langit"
Sebaik-baik orang adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Dari
Elegi Ritual Ikhlas 17 : Para Bagawat Berlomba Menjunjung Langit, didapat jika
Bagawat merupakan semua orang yang merasa bahwa dirinya memperoleh dan diberi
amanah untuk mengemban ilmu. Dari artikel tersebut disampaikan tentang
pentingnya sosok pemimpin yang mampu menjalankan amanah yang telah diberikan untuknya.
Tidak mudah menjadi seorang pemimpin yang amanah. Kita hendakya harus mempunyai
sikap bertanggung jawab yang tinggi atas apa yang telah diamanahi orang lain
kepada kita. Saat ini terlihat kurangnya sosok pemimpin-pemimpin yang amanah
dalam negeri kita. Hal ini terlihat dari kasus-kasus yang terjadi di negeri ini
seperti kontradiksi, kemunafikan, penyelewengan, korupsi, nepotisme, anomali, dan
kong kalingkong. Oleh karena itu kita haruslah mampu setidaknya menjadi
pemimpin bagi diri sendiri yang mampu mengendalikan sikap dan cara berpikir
kita. Sikap amanah disertai rasa ikhlas dalam hati akan mempunyai manfaat besar
untuk masa depan kita, tentu juga untuk kemajuan masa depan bangsa kita di masa
yang akan datang. Semoga kita selalu berada di jalan-Nya dan senantiasa mampu
bersikap amanah.
Refleksi " Elegi Ritual Ikhlas 16: Menggapai Hamba Bersahaja"
Mengambil beberapa informasi yang disampaikan di dalam
artikel Elegi Ritual Ikhlas 16: Menggapai Hamba Bersahaja, dapat disimpulkan
bahwa dengan bermujahadah ita akan mempunyai sikap tawadu’, pemurah, mudah
bersyukur. Apa yang menjadi jalan hidup disikapi dengan baik dan selalu
bijaksana. Bermujahadah itu sendiri berarti melawan hawa nafsu yang tidak baik.
Diperlukan niat yang sungguh-sungguh ketika kita bermujahadah. Dengan
bermujahadah kita dapat membedakan antara nafsu yang baik dan yang tidak baik.
Manusia di dunia ini tidak ada yang sempurna. Manusia sering
melakukan kesalahan karena mereka menuruti hawa nafsu. Nafsu yang tidak baik
adalah nafsu yang hanya mengikuti haawa nafsunya saja, semuanya serba enak
sesuai dengan keinginan. Nafsu yang tidak baik ini dekat sekali dengan sifat
sombong, iri, dengki, riya, bakhil, khianat, munafik dan pendusta.
Jika kita telah memiliki pribadi yang tenang, maka dengan
begitu kita akan selalu mengingat Allah sehingga kita ingin selalu dekat dengan
Allah .Diri yang tenang kemudian menimbulkan kemampuan untuk selalu mengingat
Allah SWT sehingga engkau selalu ingin beramal saleh. Semoga kita diberi
kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Aamiin…
Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas 15: Melawan Hawa Nafsu"
Dari elegi ritual ikhlas 15: Melawan hawa nafsu, diperoleh
bahwa manusia selama hidupnya haruslah selalu berusaha. Tidak hanya semata-mata
sekedar berusaha, namun juga diiringi dengan doa. Di dalam artikel disebutkan
bahwasanya metafisik spiritual transenden itu merupakan suatu keadaan
interaktif antara ikhtiar dan takdir, dunia akhirat, amal dan ilmu dalam
bingkau doa.
Hawa nafsu merupakan penghalang yang paling besar yang
menghalangi jalan menuju Allah. Hawa Nafsu merupakan keinginan-keinginan dari
dalam diri seseorang. Kita hendaknya selalu berusaha mengendalkan nafsu-nafsu
buruk dengan senantiasa ikhlas di hati dan kritis dalam berpikir. Kita
hendaknya mampu melawan hawa nafsu minimal yang berasal dari diri kita sendiri.
Semoga kita dapat mengendalikan nafsu kita agar dapat terhindar dari dosa
sehingga Allah memudahkan segala urusan dan kita selalu berada di jalan-Nya.
Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas 14: Perjuangan Dewi Umaya dan Muhammad Nurikhlas"
Begitu mengesankan Elegi Ritual Ikhlas 14: Perjuangan Dewi
Umaya dan Muhammad Nurikhlas di atas. Banyak hal yang dapat kita ambil makna
dari percakapan Dewi Umaya, Bagawat Rama dan Muhammmad Nurikhlas. Hubungan
antara orang tua dan anak memanglah begitu erat. Begitu besar kasih sayang
orang tua terhadap anak. Orang tua telah merawat kita sejak lahir hingga besar.
Telah mengorbankan apa yang dimilikinya, baik pikiran, tenaga ataupun harta,
demi kebahagiaan anak. Sungguh pengorbanan orang tua itu tak mampu dibalas
semuanya oleh anak. Ridha Allah terdapat pada ridha orang tua. Oleh karena itu
hendaknya kita senantiasa berbakti kepada orang tua kita. Selalu menyempatkan
waktu untuk sekedar berbincang bersama dengan orang tua, menanyakan kabar orang
tua ketika memang kita terhalang jarak karena kita sedang menuntut ilmu ataupun
bekerja. Kasih sayang anak terhadap orang tua dapat ditunjukkan dengan
senantiasa mendoakan orang tua kita agar selalu diberi kesehatan dan
kebahagiaan dunia akhirat. Apabila orang tua jauh dari jalan Allah, hendaknya
kita mengingatkan dan mengarahkan menuju jalan-Nya kembali agar orang tua kita
selamat di kehidupan kelak. Semoga kita mampu untuk berbakti kepada orang tua, dengan
memperlakukan mereka dengan hormat, selalu mendoakan mereka agar kita menjadi
anak yang sholeh sehingga kita mendapatkan ridha orang tua sekaligus ridha
Allah. Aamiin…
Langganan:
Postingan (Atom)